Realitas terhadap ancaman, sulit dipahami ?

Salah satu alasannya adalah karena ancaman itu tidak terlihat oleh kita; mereka sangat besar, sangat kecil, dan sangat lambat. Kita memandang banyak dampak perubahan iklim, misalnya, seolah-olah terjadi di waktu lain di masa depan yang jauh, atau di tempat yang jauh, seperti mencairnya gletser di puncak gunung yang terpencil. Penyebab utama perubahan iklim, yaitu emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, merupakan gas bening yang tak terlihat, bekerja perlahan seiring waktu, dan tidak langsung menimbulkan dampak yang segera terasa atau terlihat (Kunkle dan Monroe 2015). Perubahan itu tampak tidak terdeteksi dan tidak langsung, sehingga kita tidak menganggapnya relevan dengan diri kita dan kehidupan individu kita.

Gagasan inti keberlanjutan, yaitu mencapai keseimbangan antara kemakmuran, planet, dan manusia, serta sebagai pedoman untuk masa depan yang berkelanjutan  “sunshine perspective” tentang keberlanjutan.
Perspektif tersebut mengonseptualisasikan keberlanjutan sebagai kerangka normatif alternatif dalam dunia pertumbuhan, kapitalisme, dan orientasi pasar, yang mencoba mencapai keseimbangan antara keadilan sosial, keuntungan ekonomi, dan kepentingan ekologis (Elkington 1997).
Kerangka kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang diartikulasikan dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (PBB 2020), bersifat merangsang dan memandu tindakan serta menyusun perangkat dan strategi keberlanjutan
PBB : Sustainability terkait dengan (SDGs) 17 tujuan untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran bagi manusia dan lingkungan, serta memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan generasi mendatang.

Model tiga pilar keberlanjutan adalah kerangka kerja tripartit yang mengonseptualisasikan keberlanjutan sebagai sesuatu yang melibatkan tidak hanya lingkungan tetapi juga semua aspek masyarakat manusia.
Kerangka kerja ini mengusulkan bahwa keberlanjutan dihasilkan dari upaya mengejar dan menyeimbangkan tiga dimensi keberlanjutan: lingkungan (yaitu, menjaga ketahanan ekosistem dan kualitas lingkungan), sosial (yaitu memaksimalkan kesehatan dan kesejahteraan manusia), dan ekonomi (yaitu, mempertahankan produksi barang dan jasa vital dalam jangka panjang).

Komunikasi Strategis menjadi prasyarat dan instrumen pembuatan kebijakan yang efektif dan partisipasi publik: mulai dari merumuskan visi, bernegosiasi dan membuat keputusan, mengembangkan dan mengimplementasikan rencana hingga memantau dampak.
Komunikasi berfungsi untuk pertukaran informasi, membangun konsensus di antara pendapat dan kepentingan yang berbeda, dan memfasilitasi pembangunan pengetahuan, pengambilan keputusan, dan kapasitas tindakan di jantung kerja sama yang rumit antara pemerintah, kelompok masyarakat sipil, dan sektor swasta.
OECD dan UNDP menganggap komunikasi dan peningkatan kesadaran sebagai salah satu dari sembilan mekanisme inti untuk mendukung proses strategi untuk pembangunan berkelanjutan.
Komunikasi dua arah adalah ‘darah kehidupan’ dari strategi apa pun. Tanpa itu, suatu strategi tidak akan berhasil karena kerja sama dan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan utama bergantung padanya.

Pembangunan Berkealnjutan dapat dikomunikasikan dengan sukses jika
Menyadari bahwa masyarakat lebih tertarik pada isu-isu spesifik daripada keseluruhan agenda pembangunan berkelanjutan; isu-isu tertentu yang menarik minat masyarakat, bukan keseluruhan agenda SD
Memanfaatkan peluang untuk menunjukkan keterkaitan antar isu yang penting bagi masyarakat
Menampilkan sisi positif, yakni menekankan peluang, gagasan, dan inovasi yang mampu membangkitkan antusiasme masyarakat tentang masa depan, serta memperlihatkan peran yang dapat mereka mainkan di dalamnya
praktik komunikasi yang baik:
lokakarya dan konferensi untuk pemangku - diskursus pembangunan berkelanjutan tidak terbatas di antara “orang dalam” saja.

Leave a Comment